Sabtu, 31 Mei 2008 | 22.00
Globe trotter DJ
Pesta Seni Budaya Prancis
Embassy
Kompleks Taman Ria Senayan
+6221-570 3704
www.embassytheclub.com
Sebagai seorang DJ, penyiar radio, producer, Didier Sinclair selalu berkeliling ke club-club besar di Prancis dan di seluruh dunia (Amsterdam, Barcelona, Berlin, Dubai, Ibiza, Johannesburg, London, Miami, Milan, Moscou, New York, Singapur, Tokyo serta berbagai kota lainnya).
Pada awal tahun 80an, ia memulai karirnya di kota Montpellier dengan menjadi penyiar di radio setempat, kemudian di NRJ Montpellier dan Fun Radio sebagai programmer. Lalu ia menjadi resident DJ di Phébus, club terkenal di Selatan Prancis.
Pada awal tahun 90an, ia pindah ke Paris dan bekerja di FG sekaligus merilis kompilasi pertamanya pada akhir tahun 1993. Ia kemudian berkonsentrasi pada label musik Going Going Series osebagai konsultan dan direktur program.
Saat ini, dengan popularitas yang berhasil diraihnya, Didier Sinclair merupakan salah satu DJ ‘House’ musik elektronik Prancis yang paling ngetop.
27 Mei 2008
Pesta Seni Budaya Prancis
Compagnie Etha-Dam
Menyatu dengan tarian
Kelompok Etha-dam yang didirikan pada tahun 1998 oleh Ibrahima Sissoko merupakan sekelompok penari berpengalaman yang memiliki pandangan terbuka dan visi yang sama mengenai seni tari sehingga jiwa mereka menyatu.
Graha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
+6221 - 3193 7325
+6221 - 3193 4740
pkj_tim@cbn.net.id
www.tamanismailmarzuki.com
Rp. 75.000
Rp. 50.000
Rp. 30.000
« Aduna*, Terre d’Aventure » diciptakan dengan tujuan untuk menelusuri jejak segelintir umat manusia yang berangkat memenuhi takdir mereka.
Dalam koreografi baru mereka « Aduna, Terre d'aventure », tujuh penari kelompok Etha-dam menggambarkan bentuk-betuk geografis yang indah namun dengan sentuhan seni akrobasi yang menawan.
Pertunjukan puitis dan memukau yang dikemas secara profesional ini menampilkan sebuah estetika baru dalam genre hip-hop serta memberikan nuansa kehidupan dalam sebuah mimpi kebebasan.
Minggu, 25 Mei 2008
Pesta Seni Budaya Prancis
Compagnie Etha-Dam
Menyatu dengan tarian
Kelompok Etha-dam yang didirikan pada tahun 1998 oleh Ibrahima Sissoko merupakan sekelompok penari berpengalaman yang memiliki pandangan terbuka dan visi yang sama mengenai seni tari sehingga jiwa mereka menyatu.
eX Plaza
Jl. MH Thamrin
« Aduna*, Terre d’Aventure » diciptakan dengan tujuan untuk menelusuri jejak segelintir umat manusia yang berangkat memenuhi takdir mereka.
Dalam koreografi baru mereka « Aduna, Terre d'aventure », tujuh penari kelompok Etha-dam menggambarkan bentuk-betuk geografis yang indah namun dengan sentuhan seni akrobasi yang menawan.
Pertunjukan puitis dan memukau yang dikemas secara profesional ini menampilkan sebuah estetika baru dalam genre hip-hop serta memberikan nuansa kehidupan dalam sebuah mimpi kebebasan.
Sabtu, 10 Mei 2008
Quatuor instrumen gesek, musik klasik dan kontemporer
Pesta Seni Budaya Prancis
Erasmus Huis
Jl. HR Rasuna Said Kav. S-3
Jakarta Selatan
+6221-524 1069
QUATUOR DIOTIMA didirikan oleh alumni konservatori Paris dan Lyon telah meraih juara pertama pada lomba FNAPEC (lomba musik kamar Eropa) di Paris pada tahun 1999, kemudian memperoleh penghargaan pada kategori musik kontemporer dalam lomba yang diadakan di London tahun 2000.
Nama dari quatuor ini merupakan penghormatan kepada quatuor Luigi Nono, Fragmente Stille, an Diotima. Dengan demikian Quatuor Diotima menetapkan tekad mereka untuk membawakan musik jaman sekarang namun dikemas dalam repertoar klasik dan romantik sebuah quatuor instrumen senar.
Sejak didirikan, Diotima telah bermain di atas berbagai panggung internasional serta sebagian besar festival dan konser teratas di Eropa. Seorang talenta muda Indonesia, Randy, akan memukau penonton dengan alunan piano sebagai prelude konser Quatuor.
19 Januari 2008
Taman Menteng
Jalan HOS Cokroaminoto
Jakarta Pusat
Yann dan Titi, dua anggota Pockemon Crew, juara dunia dalam tari hip hop, mengadakan workshop di Jakarta membagi pengalaman dan pengetahuan mereka seputar tehnik dan kreasi artistik Pockemon Crew pada asosiasi Anak Jalanan sepanjang 14-20 Januari 2008.
15 September 2007 | 13.00
Ciné Ramadan
Pemutaran film ramadan setiap Sabtu 13.00
CCF Salemba
Jl. Salemba Raya No. 25
T 390 8580
F 390 8586,
ecrire@ccfjakarta.or.id
2002, 90 minutes, versi Prancis teks inggris
karya Laurent Chevallier
Di Soissy-sur-Ecole, daerah Essonne, provinsi Ile-de-France, dengan populasi 2000. Di sebuah desa tinggal dua warga Arab, Brahim dan Mustapha, yang berusaha keluar dari permasalahan mereka : Brahim sedang sekarat dan Mustapha harus berusaha hidup mandiri tanpa Brahim.
Documentary about Brahim, the only Arab in a village, Soisy sur Ecole, in France, who has lived a quiet and isolated life there for the past twenty years. When fellow Morroccan Mostafa El Affi arrives, he encourages Brahim to come out of obscurity and to help run the local shop, to revisit his family, and to blossom into a well-liked, integral man of the village.
15 September 2007 | 13:00
Ciné Ramadan
Pemutaran film ramadan setiap Sabtu 13.00
CCF Jakarta
Jl Wijaya 1, no.48
Kebayoran Baru
T 724-7064
F 720-6961
2001, 98 minutes, versi Prancis
karya Yamina Benguigui
menampilkan Fejria Deliba, Zinedine Soualem, Marie-France Pisier
FIPRESCI International Critics' Award (2001 Toronto International Film Festival)
Tahun 1974, Zouina seorang magribi berumur tigapuluhan tiba dari Aljazair bersama tiga anaknya untuk menetap di Saint-Quentin di bawah pengawasan ketat dari ibu mertuanya. Dia datang untuk tinggal bersama Ahmed suaminya, buruh di pabrik tekstil, yang hampir tidak ia kenali lagi. Zouina tinggal bertetangga dengan sepasang pensiunan tua. Kehadiran keluarga ini membawa persoalan besar bagi keluarga Donze dan berbagai masalah pun bermunculan.
In the aftermath of World War 2, France attempted to replenish its weakened work force by recruiting men from North Africa. In the mid-1970's, the French government relaxed its immigration policy to allow the families of Algerian men to join them. Inch'Allah Dimanche provides us with a deeply moving memoir of the sense of isolation and vulnerability that the immigrant family experienced upon their arrival at a time when racial integration was virtually non-existent.
Zouina (Fejria Deliba in a richly emotional performance) is a woman who is torn from her home in Algeria. With her three children and her abrupt mother-in-law, Aicha (Rabia Modedem), she rejoins her husband in a foreign and unaccommodating land. She finds herself feeling imprisoned between a distant husband who scorns her, a hostile mother-in-law and a neighbor (a comedic France Darry) who is afraid of Fejria's otherness. But Zouina's finally begins to feel a sense of acceptance when she meets a cosmetics factory worker who sparks in Zouina an interest in French culture and her new world. This curiosity, and her longing for freedom and experience, drives Zouina to take secret excursions with her children on Sundays, the one day that her husband and mother-in-law are out of the house. Through these little adventures, she comes to terms with the difficulties of immigration, change, and adaptation to a new culture.
8 September 2007 | 13:00
Ciné Ramadan
Pemutaran film ramadan setiap Sabtu 13.00
CCF Jakarta
Jl Wijaya 1, no.48
Kebayoran Baru
T 724-7064
F 720-6961
2005, 110 minutes, versi Prancis
karya Xavier Beauvois
menampilkan Nathalie Baye, Jalil Lespert, Roschdy Zem
Begitu lulus dari akademi kepolisian, Antoine berangkat ke Paris untuk bergabung bersama divisi kedua polisi pengadilan. Caroline Vaudieu memilih letnan kecil ini untuk masuk dalam timnya. Dia segera terikat dengan pria muda yang seusia anaknya yang hilang…
"Le Petit Lieutenant" is a quiet powerhouse of a film, an implacable, uncompromising French police drama, both old-fashioned and modern, that underlines the reasons impeccably made crime stories do so well on screen.
Nominated for six Césars, including best picture and deservedly winning best actress for the great veteran Nathalie Baye, "Le Petit Lieutenant" is successful on two parallel levels.
"Le Petit Lieutenant" is an involving character drama before it is anything else, a film that is determined to give us a real sense of what the lives of a group of elite Parisian police officers are like on the most intimate level.
But because the police do what they do, "Le Petit Lieutenant" inevitably deals as well with death and crimes that have to be solved, with human behavior at moments of extreme and painful crisis.
That Beauvois' film adroitly combines both strands is due to the filmmaker's determination, in his own words, "to be scrupulously faithful to the reality of a police investigation and to use all I had seen" in several months spent following a French police captain through his daily life.
What this means specifically is that "Le Petit Lieutenant" has been shot in a crisp, purposeful style and that the director has insisted on low-key, unforced acting from all his players. This is filmmaking that indicates more than overemphasizes, that understands the value of naturalism above all things.
Just as welcome, and just as rare, "Le Petit Lieutenant" is in no kind of rush or hurry. Beauvois is sure enough of his story to let things play out on their own terms. Given how deliberately this film moves, how moving it turns out to be may seem surprising, but it is the former that has led to the latter.
The film begins with Antoine, the young lieutenant of the title, graduating from the national police academy in his native Normandy. He gets the posting he wants, as a plainclothes detective in exciting Paris, though it means leaving his young teacher wife behind.
Jalil Lespert, who made a memorable debut as the star of Laurent Cantet's "Human Resources," is an excellent choice for Antoine. He gives us a well-mannered young man who seems plenty capable as a police officer but also has a likability, even a naive sweetness that we don't always see behind a badge.
"Le Petit Lieutenant" concentrates first on immersing us in the dailiness of Antoine's life as the new guy at the Paris station, trying to fit in. We go with him as he's assigned his weapon and rents a single-guy room to live in. And we meet the other people in his unit, in effect his family away from home.
There is Solo (Roschdy Zem, Cannes best actor winner for "Indigènes"), a Moroccan who's had trouble being accepted. There's the right-wing Morbe (the director himself) and Mallet (Antoine Chappey), who's always looking for an easy way out. And then there is his boss, Chief Inspector Caroline Vaudieu (Baye), who is a film all by herself.
An extremely experienced officer who really knows her job, the inspector is a recovering alcoholic who is just returning to life on the street but still bears the scars of the experiences that led her to drink. With her careworn face and eyes that have seen more than anyone should, Baye brings this complex, distraught character to exceptionally vivid and moving life.
Gradually, as Antoine gets his footing under the inspector's sympathetic but watchful eyes, "Le Petit Lieutenant" shifts its focus to the cases to which he and the unit are assigned, specifically the murder of a homeless man whose body is found in the Seine.
Here, once again, director Beauvois emphasizes the minutiae of police work, the boredom-inducing checking and rechecking of facts, the ever-so-slow accumulation of evidence that leads the police to feel the futility of their jobs.
But, always lurking behind the tedium is the sense of impending danger, the idea that it's in the nature of police work that things could explode at any moment. With its exceptional restraint and psychological complexity paying full dividends, "Le Petit Lieutenant" makes that contrast and its consequences unforgettable. | kenneth.turan@latimes.com
8 September 2007 | 13.00
Ciné Ramadan
Pemutaran film ramadan setiap Sabtu 13.00
CCF Salemba
Jl. Salemba Raya No. 25
T 390 8580
F 390 8586,
ecrire@ccfjakarta.or.id
1995, 95 minutes, versi Prancis
karya Mathieu Kassovitz
menampilkan Vincent Cassel, Hubert Koundé, Saïd Taghmaoui
Untuk mengusir rasa bosan dan menghabiskan waktu, tiga pemuda berjalan-jalan. Kerusuhan terjadi setelah Abdel Ichah dipukuli polisi waktu sedang diinterogasi. Malam itu merupakan malam terpenting dalam hidup mereka.
When a film called La Haine was released in France in 1995 it caused something of a stir. A sucess at the French box office, with around 500,000 viewers in the first six weeks of its release, as well as with the critics (it won the Best Director Award at Cannes), it became one of the most controversial and talked about French films in recent years.
The interest was unusual as the film was written and directed by a largely unknown young filmmaker and actor. Moreover, it was filmed in black and white, with no big name stars on a small budget (an estimated FF15 million). In Kassovitz, France, it seemed, had produced a young, talented and provocative filmmaker to rival American directors like Spike Lee, Quentin Tarrantino or even Britain's Danny Boyle.
The stir La Haine caused was, in part, due to its controversial subject matter - les banlieues (the suburbs) - which had, since the 1980s, become synonymous with France's major problems of unemployment, social exclusion, racial conflict, (sub)urban decay, criminality and violence. It was also due, in part, to its negative portrayal of the police who, with the exception of one officer of North African descent, are represented as violent, racist and uncomprehending. It was also due in part to its sympathetic, some might say indulgent, representation of an excluded and multi-ethnic suburban youth.
The initial story for La Haine came from a real-life fait divers: the shooting of a sixteen-year-old Zairean youth called Makomé Bowole in police custody in 1993. Unlike the Rodney King affair (a black man beaten by LAPD police officers was caught on videotape) which received wider public attention, Makomé's death went relatively unreported and unnoticed.
La Haine follows one day in the lives of three young banlieusards: Vinz, of Jewish descent, Saïd, a Beur, and Hubert, of African origin. Kassovitz replaces the bleu, blanc, rouge of the tricolore with the beur, blanc, `black' of the banlieues. The three friends are shown living by their wits, surviving on petty crime and small-time drug deals on a low income housing estate outside Paris. It's no ordinary day for them however, as a riot has just taken place on their estate, a friend has been assaulted in police custody and lies in hospital in a coma. To make things more explosive, Vinz finds a police revolver (une flingue) dropped, or stolen, during the rioting. As the three hang out together, picking over the aftermath of the riot and discussing the condition of their comatose friend, the tension mounts
The film is about the interracial solidarity of a small gang (une bande) of friends, divided by race, religion and ethnicity but joined by the common bonds of geographical and economic isolation. Living a life far removed from the far away from affluence of middle-class or tourist Paris, the three eke out a living by dodging and diving, working small-scale scams like dealing dope and handling stolen goods. Kassovitz is not so much interested in inter-racial violence - this is only touched upon briefly as part of a broader antagonism between young banlieusards and the police - but on a specific class (or underclass) and generation. | Tony McNeill, The University of Sunderland
25 August - 2 September 2007
This year Q! Festival presents films with coming-of-age and journey into adolescence under the theme umbrella called "Youth Revisited".
All the films have been selected in some pretigous festivals. Also a World Premiere of a short film "Twogether" by Singaporean director Victric Thng and a short documentary film "Paris Dreams Continued" by local director Dhani Agustinus.
There are also Q!Gossips where everyone can chat around with some filmmakers, novelists in depth. To answer some curiosity behind the making of a film, there will a behind-the-scene photo exhibition of a Japanese film called "First Love" at Japan Foundation during the festival.
Continuing the festival in Jakarta, 3 films will screen in Seminyak, Bali where people will watching film by the beach.
Film Screening Venues in Jakarta:
Blitz Megaplex - Grand Indonesia
Capacity: 144 seats
Jl. M. H. Thamrin 1, 8th Floor
T 2358 0200
Cemara 6 Gallery - Capacity: 60 seats
Jl. HOS Cokroaminoto 9 – 11
Menteng, Jakarta Pusat
T 3192 4505
Centre Culturel Francais (CCF) - Capacity: 43 seats
Jl. Salemba Raya 25
T 390 8585, 390 8580
Erasmus Huis - Capacity: 350 seats
Jl. H. R. Rasuna Said Kav. S-3
Kuningan, Jakarta Selatan
T 524 1069
Goethe Haus - Capacity: 301 seats
Jl. Sam Ratulangi 9 – 15
Menteng, Jakarta Pusat
T 2355 0208
Japan Foundation - Capacity: 120 seats
Summitmas I, 2th – 3th Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav 61 – 62
T 520 1266
Kineforum
TIM 21 Studio 1 - Capacity: 139 seats
Jl. Cikini Raya 73
T 3193 4720
Subtitles DVD
Pixel Theater - Capacity: 20 seats
Dharmawangsa Square - The City Walk
Jl. Dharmawangsa IX, Basement Floor
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
T 7278 8337
1 September 2007 | 15.00
Pemutaran 5 film pendek & diskusi
CCF Salemba
Jl. Salemba Raya No. 25, Jakarta 10440
T 390 8580
F 390 8586,
ecrire@ccfjakarta.or.id
à courts d’écran adalah sebuah program yang memfasilitasi pembuat film pendek Prancis dan Indonesia. Program pemutaran dilakukan sebulan sekali pada hari Sabtu minggu kedua sepanjang tahun 2007 di CCF Salemba. Pembuat film pendek Indonesia dapat mengirimkan karya mereka ke CCF Jakartadalam bentuk DVD atau VHS yang kemudian akan melalui proses kurasi untuk ditampilkan dalam satu program pemutaran.
Bulan September ini menampilkan film dengan tema yang berbicara mengenai godaan, gairah, pencarian kenikmatan, rahasia dibaliknya, serta kenikmatan dari rahasia itu sendiri. Film-film ini mengungkapkan intimasi tubuh dengan lingkup sosial yang mengelilinginya.
18 Agustus 2007 | 13:00
Gratis
Pusat Kebudayaan Prancis
CCF Jakarta
Jalan Wijaya 1, n° 48
Kebayoran Baru
T 724-7064
F 720-6961
karya Jean-Pierre Melville
menampilkan Nicole Stephane, Renée Cosima, Edouard Dhermitte
d’après le roman de Jean Cocteau
1949, 100 min., B&W, bahasa Prancis
Cozarinsky membuat kompilasi dari potongan-potongan film karya Jean Cocteau serta berbagai wawancaranya dimana ia menjelaskan karya film serta konsep puitisnya. Kehadiran Cocteau dalam gambar dan suaranya yang khas menunjukkan bahwa otopotret atau strip-tease ini, yangmana ia meminta maaf telah mempertontonkannya, ingin memperlihatkan sebuah jiwa yang telanjang.
18 Agustus 2007
Gratis
Pusat Kebudayaan Prancis
CCF Jakarta
Jalan Salemba Raya 25
T 390-8580
F 390-8586
15.00 Pembukaan
15.05 Aku dengan Nina | Dinda M. Djunanda
16.00 Fond de teint | Marie-Louise Mendy
16.10 Marcel ! | Jean Achache
16.19 La conductrice | Carl Lionnet
16.29 Stricteternum | Didier Fontan
16.38 Diskusi
17.00 Yaa... Begitulah Kehidupan | Harta Winata
17.48 Celilian | Heru C. Wibowo
19.00 Gethek Pintar | Muslikah
19.44 Ijinkan aku bernyanyi | Ananto Wibowo
20.29 Kematian di Jakarta | Ucu Agustin
20.54 Diskusi
Memasuki tahun keempat bekerja sama dengan CCF Jakarta, Boemboe Forum 2007 bersinergi dengan program à courts d’écran menghadirkan 6 film pendek Indonesia dan 4 film pendek Perancis mengusung tema “Apa Kabar”. Bagaimana pembuat film mengekspresikan kabarnya melalui pengalamannya langsung atau bahkan ‘menciptakan’ pengalamannya? Lalu bagaimana mereka saling berinteraksi melalui karyanya? Tanyakan sendiri kepada 6 pembuat film yang akan hadir dari Jakarta, Purbalingga, Wonogiri, Yogjakarta dan Jember. Bentuk acara akan berupa presentasi dan pemutaran karya yang langsung dilanjutkan dengan diskusi selama kurang lebih 30 menit setiap karyanya.
Selengkapnya

Mode « Défilés, des filles, des filés »
karya Wilfrid Rouff
Pembukaan : 21 Juni 2007 pk. 19.00 di Café La Moda – Plaza Indonesia
Pameran : 21 Juni > 21 Juli 2007 Plaza Indonesia
Sesaat, terkadang berubah dengan cepat, mode bagaikan kupu-kupu yang berpindah-pindah dan hinggap berhenti pada segala gaya, bahan dan jaman, untuk terus menciptakan kembali hal-hal baru. Dan jika hubungan antara mode dan seni terlihat semakin erat, maka hal itu memang sudah seharusnya !
CCF Jakarta, L’Oréal Professionnel dan Esmod mengajak Anda menjelajahi dunia mode dalam segala bentuk pada sebuah fashion night yang berbeda. Peragaan busana dan tata rambut akan membuka pameran fotografer mode Prancis Wilfrid Rouff yang menampilkan desainer mode Prancis terkenal, citra mode yang terekam di jalanan kota Jakarta, dan kreasi fashion murid-murid Esmod.
Pada pembukaan pameran ini akan ditampilkan hasil workshop mahasiswa IKJ dan Esmod di bawah bimbingan Wilfrid Rouff.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan L’OREAL / Tauzia-Harris / ESMOD / IKJ / InTime / Christian Tortu

Pesta Musik – Elektro Dub « HIGHTONE »
24 Juni 2007
Berasal dari lingkungan musik rock alternatif, grup High Tone dari kota Lyon terus mengadaptasi musik elektro dalam penampilan mereka. Mungkin karena mereka pernah mencicipi energi musik rock sebelum mengkhususkan diri dalam musik trans Jamaika. Suara bass yang dominan dan berputar pada breakbeat elektro, ritme hip-hop dan nuansa etnik, aksi panggung High Tone diperkuat oleh musik mereka. Dari grup yang kompak ini, DJ Twelve (scratch, samples), Julien (gitar, samples), Dino (drum, samples), Tonio (keyboard, komputer) dan Fab (bass) meluncurlah musik penuh unsur urban, hasrat untuk bermimpi dan bergoyang. Pada tiga layar di atas panggung, Nicolas sang VJ (video-jockey) memadukan kreasinya dengan gambar visual yang menghasilkan suasana memabukkan.
Konser ini diselenggarakan dalam rangka perayaan Fête de la musique / Pesta Musik yang jatuh pada tanggal 21 Juni. Di Prancis Fête de la musique dirayakan di setiap kota dengan menggelar konser-konser musik di setiap sudut kota. Semua jenis musik dinikmati oleh semua orang dan untuk semua orang.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan CULTURESFRANCE / Ville de Lyon / TIM / French Electro Connection / Hotel Le Meridien / Aqua-Danone / BigBird.

Sains « Kisah Air »
Pameran : 18 > 24 Juni 2007 di eX Plaza – Jakarta Pusat
Seminar : 19 Juni 2007 di Hotel Le Meridien, Jl. Jend. Sudirman Kav.18-20, Jakarta Selatan
Info lebih lanjut : CIRAD - tel.719 90 67
Pameran
Politik, pertanian, masyarakat... Air adalah sumber kehidupan dan berada di jantung keseharian kita. Meskipun demikian, proporsi air tawar yang tersedia di muka bumi tidak seimbang, tidak dikelola dengan benar dan masih kurang dilindungi. Sebuah pameran ilmiah seputar tema « Air tawar, air langka » dan « Air untuk kehidupan » memberikan sudut pandang edukatif serta permainan tentang pelestarian sumber daya serta mengenalkan tujuan dari pembangunan berkelanjutan. Guided tour pameran dengan perjanjian.
Seminar
Sebuah seminar yang akan membahas penelitian Prancis-Indonesia tentang air dan berbagai program yang dijalankan bersama antara Prancis dan Indonesia dalam bidang ini. Dari segi budaya dan politik hingga resiko alamiah yang berkaitan dengan air; dari penggunaan air di bidang pertanian hingga penggunaan di zona perkotaan. Beberapa pembicara menawarkan pandangan yang beragam tentang topik ini.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan CIRAD / IRAD / Kedutaan Besar Prancis di Indonesia / Aqua-Danone / SDV / MedcoEnergi.

Sirkus Kontemporer « 9.81 » Cie. 9.81
13 Juni 2007 - di Amphitheater Erasmus Huis, Jl. HR Rasuna Said Kav. S-3, Jakarta Selatan
Undangan dapat diambil di CCF Salemba & Wijaya
Melayang di antara bumi dan langit
Menggabungkan seni akrobat, seni tari, manipulasi obyek serta gambar digital, Eric Lecomte mempersembahkan sebuah pertunjukkan luar biasa dengan satu gerakan : memanjat… Maka ia pun menjadi seorang petualang yang bergelantungan, memanjat dan meluncur. Seorang hybrid melejit dalam badai yang datang tiba-tiba dan menjelma menjadi seekor burung yang melata atau cacing yang terbang. Tanpa beban, ia terus memanjat… 9.81 adalah kreasi tentang realitas yang lain dimana sebuah perpindahan dapat mengandung arti yang lain, dimana batasan antara bumi dan langit terhapus, dimana sebuah gerakan mengandung makna yang dalam. Di luar hukum gravitasi.
Cie 9.81 - Éric Lecomte
Éric Lecomte, seniman sirkus sejak 15 tahun yang lalu adalah seorang pencinta alam yang mampu melekukkan dan meringankan tubuhnya bagai seekor kucing, burung bahkan reptil, kehadirannya di panggung selalu terkesan ringan dan tak terduga. Penampilan perdananya dalam seni pertunjukan adalah di Sirkus Doctor Paradi. Sejak muda ia tertarik pada seni tari, street dance dan seni akrobasi, bergabung bersama berbagai kelompok sirkus seperti Olivier Farge, Ex Nihilo dan Retouramont ia membuat dan mengembangkan teknik « tarian di udara », « tari akrobasi » dan « tarian di tangga ». Pada tahun 1998, ia bergabung dengan kelompok Cahin-caha dan berkolaborasi dalam pertunjukan ChiencrU, lalu Grimm pada tahun 2003. Karena keinginannya untuk bersolo-karir setelah dua tahun melakukan eksplorasi dan memperoleh pengalaman, saat ini ia adalah penulis skenario dan pemain dari 9.81.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan CULTURESFRANCE / Aqua-Danone / Michelin / LeGrand / MedcoEnergi / InTime / Lara Djonggrang

« DJ MISSILL »
8 Juni 2007 - di Embassy
9 Juni 2007 - di Public, Komplek Taman Ria Senayan, Jakarta Selatan
Informasi lebih lanjut : Future 10, T 720 58 37 www.future10.com
Sebagai DJ, grafis, seniman grafiti dalam berbagai bidang, Missill, 22 tahun, haus berekspresi. Tanpa aturan ataupun guru, ia adalah self-made woman seutuhnya, wanita muda dari Cathares yang penuh semangat dan kreativitas. Sejak tahun 1999, Missill « bersenjatakan » turn-tables dan mulai mengolah segala jenis musik ragga, hip hop, breakbeat dan elektro yang membuatnya semakin bergairah. Pada malam hari, berbekal cat semprot dan peralatan melukis lainnya, ia menjelajahi kota Paris mencari tembok mati untuk dihidupkan kembali. Cita rasa grafisnya terlihat juga pada flyer, cover album, logo maupun situs internet yang ia buat untuk berbagai artis, ruang pertunjukan dan festival. Missill meledakkan ide-ide baku yang ia kembangkan dari cara umum ber-DJ. Musiknya terdengar segar, mixing-nya orisinil dan energinya « menular ». Koreografi yang pas membuat penonton menggila! Dengan mudah, Missill beradaptasi dan menerapkan gayanya dimanapun ia berada.
Missill menciptakan gayanya yang ultra-dinamis dalam gaya bermusiknya dan juga gaya berkarya grafisnya. Ia merancang sendiri gambar untuk sampul album CD, situs, selebaran, poster, dan juga video ilustrasi untuk konser-konsernya.

Balet « Les Créatures » CCN / Ballet Biarritz
31 Mei 2007 |.20.000 - di Graha Bhakti Budaya - TIM
Jl. Cikini Raya No.73 Jakarta Pusat HTM : Rp. 50.000 /Rp. 75.000 / Rp.100.000
Malam berganti hari, hari berganti malam, lahirlah penari pertama di muka bumi. Lalu muncul seorang wanita sebagai pasangannya. Maka tercetuslah keinginan menciptakan formasi tari dan mengajak makhluk lain bergabung dengan mereka. Waktu pun berlalu dan terbentuklah tari barok, romantis dan klasik. Hingga suatu saat hasrat membuat koregrafi yang lebih bebas datang menghampiri. Kupu-kupu, api atau badai, Loïe Fuller menarik perhatian mereka. Seniman dari berbagai negara seperti Isadora Duncan atau Doris Humphrey turut mengilhami tarian mereka. Dan mereka akhirnya terkesima dan tergoda. Adam dan Hawa meninggalkan Surga mengikuti cakrawala baru yang terbentang di hadapan dunia Seni Tari. Dalam perjalanan, mereka menyadari bahwa mereka akan terus berkembang dengan susah payah dan menciptakan gerakan tari baru dalam suka dan duka.
Les Créatures, adalah kreasi terbaru dari koreografer Thierry Malandain yang telah meraih sukses luar biasa. Sebagai pencipta, ia mampu menyampaikan segala emosi dalam gerakan serta menguasai ruang dan waktu. Ia pun berselancar antara masa lalu, masa kini dan bahkan masa depan. Les Créatures menampilkan sekuen yang berubah dari suasana kegelapan hingga cahaya pembawa harapan, dari suatu gerakan tegas dan terlatih hingga mencapai suatu kemenangan atas pembebasan jiwa dan raga.
Pusat Koreografi Nasional - Ballet Biarritz / Thierry Malandain
Sejak didirikan pada tahun 1998, CCN / Ballet Biarritz dipimpin oleh koreografer Thierry Malandain. Setelah berguru pada Monique Le Dily, René Bon, Daniel Franck, Gilbert Mayer dan Raymond Franchetti, Thierry Malandain masuk Opera Paris, Ballet du Rhin lalu Ballet Teater Prancis di Nancy dan melanjutkan karirnya sebagai penari sebelum akhirnya berkonsentrasi dalam bidang koreografi. Sebagai pencipta dari sekitar 60an koreografi dan pemenang dari berbagai penghargaan terkenal, ia juga berkecimpung dalam bidang teater lirik dan berkolaborasi dengan Robert Fortune, Peter Busse, Alberto Fassini, Jean-Louis Pichon atau Frédéric Pineau. CCN / Ballet Biarritz yang berlokasi di Gare du Midi (stasiun kereta api tua) terdiri dari 16 penari tetap dan menawarkan ruang kreasi kepada kelompok lain. Berkat letak geografis yang ideal, CCN / Ballet Biarritz dapat turut berperan dalam pengembangan bidang koreografi tanpa batas yang didukung oleh Uni Eropa.
Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Delegasi Uni Eropa bekerjasama dengan CULTURESFRANCE / TIM / Hotel Le Meridien / SOPEXA Indonesia / Aqua-Danone / LeGrand / MedcoEnergi / Michelin / BigBird / InTime / Christian Tortu / Lara Djonggrang

Lagu Prancis « Hot Couture »
25 Mei 2007 - di Restoran Oasis, Jl. Raden Saleh No.47, Jakarta Pusat
Reservasi: IFCCI – 739 71 61
Kostum berbulu
Dunia legendaris penuh sorotan lampu, bulu-bulu dan malam khas Paris : kabaret !
Tata suara lembut, campuran genre musik, Hot Couture menawarkan paduan musik elektronik dan akustik yang unik. Pada bagian pertama, grup ini membawakan lagu-lagu klasik Prancis yang abadi seperti lagu dari penyanyi Montand, Chevalier, Mistinguette, Piaf atau Baker, dan dari yang terbaru, Modjo. Pada bagian kedua, ke-empat seniman inovatif ini akan menyajikan suara-suara musik akustik yang menghanyutkan. Dan untuk sentuhan terakhir, suara diva Liza Michael berkelap-kelip dengan sejuta payet. Dalam versi maya, inilah Hot Couture…
Kabaret
Pada masa « Kejayaan Prancis », berbagai kafe yang mengadakan konser bermunculan seakan menghapus sejenak semua jenjang sosial yang ada. Kabaret yang terkenal seperti Le Chat noir, merupakan salah satu kabaret artistik yang didirikan pada tahun 1881 di Montmartre dan dikunjungi oleh tokoh-tokoh budaya dan intelektual, serta Les Folies Bergères, yang menampilkan berbagai hiburan : penyanyi, penari, pelempar bola, dsb. Sejak tahun 1970an, sebuah generasi musisi dan aktor lahir dari dunia kabaret.
Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan IFCCI

