Showing posts with label opera. Show all posts
Showing posts with label opera. Show all posts

La Serva Padrona

29 Mei 2008
Cocktail 19:00
Performance starts 20:00

Indonesia Opera Society and Istituto Italiano di Cultural
With Italian best baritone, Massimo Di Stefano in the role of Uberto and Indonesian beloved soprano Linda Sitinjak as Serpina.

Ro. 350.000
Dress Code: Formal
more info:
Indonesia Opera Society
Erza S.T. +6221 526-493
erza.s@indonesiaoperasociety.org

Read More...

The Seven Last Words of Christ

7lastword 13 April 2008 | 19:30

Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Gedung Kesenian No. 1
Pasar Baru
Jakarta

+62818 0643 8010

Rp. 200.000
Rp. 100.000
Rp. 75.000



The Seven Last Words of Christ by Theodore Dubois
Persembahan dari Susvara Opera Company
Solist :
Catharina Wiriadinata Leimena (Mezzo-Soprano)
Christine Teodosia Lubis (Soprano)
Ferry Chandra (Baritone)
Indra Listyanto (Tenor)
Joseph Kristanto (Baritone)
Margaretha Emilia Paduli (Soprano)
Novanda Bulu (Soprano)
Pricillya Carlla Souhuwat (Soprano)
R. Kristiawan (Tenor)
Sri Muji Rakhmawati (Soprano)

Immanuel Church Choir and Susvara Opera Chorus
Accompanist : Christina Mandang; Aditya Setiadi Pradana; Teo Minaroy

Read More...

La Boheme [4-5]

19:30 - 19:20
Rp. 500.000, Rp. 300.000, Rp. 200.000

Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Kesenian No. 1
Pasar Baru Jakarta
T 724-3369, 718-0487

Opera "La Boheme" karya Giacomo Puccini
Artistic Director: Catharina W. Leimena; Conductor: Eric Awuy; Director: Raymond Lee; Narator: Jajang C. Noer

Susvara Opera Company (SOC) berkolaborasi dengan Twilite Youth Orchestra (TYO) dan Pengabdian Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (PUKAT).

Opera La Boheme adalah opera 4 babak karya Giacomo Puccini. Merupakan karya keempat Puccini sekaligus karya pertamanya sejak menjalin kerjasama dengan Giuseppe Giacosa.

Opera ini dibuat berdasarkan novel picaresque karya Henry Murger yang berjudul "Scenes de la vie de boheme" yang bercerita tentang kehidupan para seniman di bagian Latin Quater kota Paris.

Novel ini bercerita tentang kehidupan empat orang seniman bohemian yang hidup bersama dalam kesederhanaan. Mereka adalah Rodolfo (Penulis Naskah Drama), Marcello (Pelukis), Colline (Filsuf) dan Schaunard (Musisi).

Dan seperti opera-opera lain, opera berlatar belakang Natal ini juga memfokuskan pada kisah cinta. Opera La Boheme ini merupakan sebuah karya opera yang sangat fenomenal dan mendapatkan sukses besar pada pementasan perdananya di Teatro Regio Turin pada tahun 1896.

Read More...

Kita Semua Bersaudara

30 September 2007 | 10:00-18:00

Masjid Agung Sunda Kelapa
Jl. Sunda Kelapa No. 16
Jakarta
T 0815 801-9643

Pentas Seni Ramadhan "Kita Semua Bersaudara"
Acara : Band Religi; Tari Saman; Tausiyah ( Ustdz. Irene Handoyo ); Operet Islami; Galang Dana untuk anak jalanan

Read More...

Tanding Gending | 21-22

21-22 Agutus 2007 | 19.00
Rp. 100.000

Retrospeksi IWAN TIRTA
Sebuah retrospeksi Batik klasik, dipersembahkan melalui pergelaran Opera Klasik Jawa

Taman Ismail Marzuki
Graha Bhakti Budaya,
Jl. Cikini Raya 73 Jakarta
T 3193-7325 | tiketbox: http://ticketbox.detik.com

Pengarah Artistik Iwan Tirta Tata Tari, Sutradara & Penulis Naskah Wasi Bantolo Tata Musik Blacius Subono Tata Cahaya & Artistik Panggung Iskandar K. Loedin Tata Suara Totom Kodrat Tata Busana Hartoyo Penasehat Artistik Tata Busana KRAy. Maktal Dirdjodiningrat Penasehat Artistik Koreografi Elly D. Luthan Penasehat Artistik Tata Keris Haryono Haryoguritno Assisten Produser Retno Hemawati, Sodikin Co-Produser Sandiantoro, Fafa Utami, Y. Vikochenko Produser Bram & Kumoratih Kushardjanto

Dari Kumoratih Darmawan :
Iwan Tirta mengeluarkan kain-kain klasik yang dibuatnya sejak 30 tahun yang lalu dan merupakan motif-motif langka. Bukan hanya kain-kainnya saja, tetapi juga perhiasan dan kerisnya. Keris-keris yang dikenakan penari disesuaikan dengan karakteristik tokoh wayang yang diperankannya. Dalam hal ini, Museum Pusaka banyak mendukung. Sebagian besar keris-keris yang dikenakan penari adalah koleksi Museum Pu saka.

Kalau biasanya sebuah peragaan adibusana yang menggunakan para model yang berjalan di atas catwalk, batik klasik Iwan Tirta ini diperagakan oleh para penari klasik tradisional Jawa dalam format opera (dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan langendriyan) yang bisa juga dibilang mulai langka.
Kenapa dikemas dalam format opera, tidak lain supaya ekspresi keanggunan, keagungan dan keindahan akan muncul jika batik diletakkan dalam satu kesatuan estetika yang terbingkai dalam konteks kebudayaan yang melahirkannya. Yang mana, ekspresi tersebut boleh jadi tidak akan 'muncul' jika dipamerkan dalam bentuk peragaan busana biasa yang terlepas dari akar tradisinya.
Pergelaran Opera "Tandhing Gendhing" ini adalah perpaduan antara batik, wayang, keris. Dalam tradisi Jawa, satu bentuk seni terkait dengan bentuk seni lainnya. Batik, wayang, keris. Ketiganya tak terpisahkan, dan merupakan sebuah totalitas antara seni rupa dan seni pertunjukan.

Langendriyan adalah salah satu bentuk teater tari tradisional yang memiliki posisi penting pada masanya. Langendriyan diciptakan pada masa abad ke 18 di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Raden Mas Haria Tandakusuma, menantu dari Mangkunegara IV (1853-1881) menciptakan versi Surakarta, sementara Raden Tumenggung Purwadiningrat dan Pangeran Mangkubumi menciptakan versi Yogyakarta (1876).
Langendriyan diiringi dengan orkestra gamelan, dimana dialog para pemain menggunakan tembang. Langendriyan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, sehingga menuntut kemampuan yang prima dari seniman pendukungnya, mulai dari olah tari, vokal hingga kemampuan teater.

Bentuk tarian pria berangkat dari bentuk Wireng (tarian perang), salah satu jenis tari yang lazim di Kasunanan Surakarta, yang mana hanya ditarikan oleh pria. Wireng memiliki jenis dan ragam yang bermacam-macam, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu wireng beksan dugangan seperti tari Band abaya, dan wireng beksan alusan seperti tari Dhadap Karno Tinanding. Wireng sudah mulai jarang ditarikan, dan kini dapat disebut sebagai salah satu bentuk tarian yang langka.

Langendriyan menuntut kemampuan teknik yang sangat tinggi meliputi tari, olah vokal dan kemampuan akting. Dialog akan dilantunkan dalam bentuk tembang (lagu) sehingga tentunya juga menuntut teknik vokal yang prima dari para penari. Di sisi lain, pemilihan penari dilakukan melalui proses audisi yang ketat. Selain memiliki kemampuan teknis yang prima, mereka pun harus memiliki postur tubuh yang cocok untuk memperagakan adibusana dan kain batik klasik Iwan Tirta.

Ditarikan oleh 7 orang penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan, koreografi ini akan diiringi oleh orkestrasi gamelan dengan komposisi musik yang diolah dari repertoire klasik tradisional Jawa. Di sisi lain, di jaman sekarang ini cukup sulit mencari penari-penari muda dengan kualifikasi seperti itu.

Read More...

Your Ad Here