07 Juni 2008 | 19:00
Taman Menteng
Jl. Cokroaminoto
Menteng
Jakarta Pusat
Sejak lebih dari 30 tahun, pemain pantomim Bizot, yang sekaligus merupakan pengajar, sutradara dan seniman, bergelut dalam bidang seni tidak hanya di Eropa, namun juga di Amerika Latin, Amerika Serikat, Afrika maupun Asia. Ia mengajak penonton untuk menyaksikan ‘seni keheningan’.
+6221 380-8283
06 Juni 2008 | 20:00
Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Gedung Kesenian No. 1
Pasar Baru Jakarta
+6221 380-8283 atau 344-1892
Rp. 50.000
Kebahagiaan Sederhana Penuh Makna
Sejak lebih dari 30 tahun, pemain pantomim Bizot, yang sekaligus merupakan pengajar, sutradara dan seniman, bergelut dalam bidang seni tidak hanya di Eropa, namun juga di Amerika Latin, Amerika Serikat, Afrika maupun Asia. Ia mengajak penonton untuk menyaksikan ‘seni keheningan’.
Menciptakan ruang yang tak terlihat, pemain pantomim Bizot melewati batasan hal-hal yang mungkin dilakukan. Pada bulan Oktober 1974, Philippe Bizot memenangi juara pertama pada festival pantomim kota Paris. Pada tahun 2003, ia meraih hadiah utama festival teater dunia di Puerto Montt di Chili.
more info
30 Mei 01 Juni 2008 | 20:00
Teater Kecil
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73
+6221-3193 7325
Rp. 40.000
Teater Sastra UI
Bagaimana reaksi seorang suami ketika istrinya menyatakan bahwa ia positif hamil sekaligus HIV? senang, marah,bingung, frustasi, sibuk menyalahkan sang istri atau berkaca dan bertanya pada diri sendiri?.
more info
Padepokan Wayang Orang Bharata.
Gedung Wayang Orang Bharata
Jl. Kalilio No. 1
Senen Jakarta Pusat
+6221-7064 2535
Rp. 25.000
Rp. 20.000
Mengenai suasana Pentas Bharata, simak laporan Kodok Ngerock di sini.
25 April 2008 | 20:00
Rossa R. Rosadi S, Sn. (sutradara), Ucoq Lubis (Astrada)Rendra, Cuwie, Intan, Ratna, Wheni, Nanik, Iman, Maria, Siti, Jamal, Ucoq
Sanggar Baru
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73 Jakarta Pusat
6221 3193 7325; 3193 4740
Saturday Acting Club (SAC) adalah sebuah kelompok kajian acting yang mempunyai concern sama serta menekplorasi segala gaya acting dari berbagai – isme yang tidak terbatas. Berdasarkan sebuah kesadaran bahwa pisau tafsir harus diwujudkan dalam kenyataan tafsir, SAC menyadari bahwa teater tidak pernah menggoreskan tanda baca “titik”.
Kali ini menampilkan Zero Matrix (karya Saturday Acting Club) yang merupakan bentuk pertunjukkan "silent act" yang berangkat dari kompleksitas permasalahan medernitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat in, dan Cathasthrope (Tragedi/Bencana) – karya Samuel Beckett yang didedikasikan untuk Vaclav Havel, penulis drama dan komedi politik/satire dari Czechoslovakia, yang dipenjara pada tahun 1979 selama 4,5 tahun. Beberapa hari sebelum Samuel Beckett meninggal dunia, Vaclay Havel diangkat menjadi Presiden Czechoslovakia.
25 April 2008 | 20:00
Wayang Orang Wanita
Putri Mitra Wayang Orang Indonesia
Raden Abimanyu lahir dari Dewi Woro Subodro keturunan Raden Arjuna,sesudah remaja. Mempunyai istri yang bernama Dw.Siti Sundari.Untuk memperpanjang keturunan kerajaan,dia harus memperistri Dw.Utari,dari kerajaan Wiroto.Abimanyu diangkat sebagai raja dengan nama Prb.Wiro Batono,dan dia bersumpah dengan Dewi Utari kalau belum punya istri,sumpah saya bila tidak tepet kata-kata saya,semoga besok mati saya terbunuh dengan senjata satu Negara,terjadilah perang Bharatayuda R.Abimanyu gugur terbunuh oleh Senopati dan Prajurit dari Kerajaan Astina.
Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Gedung Kesenian No. 1
Pasar Baru Jakarta
+62818 492 579
Rp.100.000, Rp.150.000, Rp.250.000
Atilah Soerya Djaya, Didiet Taherilo, Endang Purnomo, Tuti Roosdiono, Anna, Miranti Serad, Endang Gatot, Lily, Surip Handayani, Lidya Haryati, Nunung R, Marusya Nainggolan M.A, Wibisono, Niken Darmawan, Tri Pujiati, Yati, Nani Rahmat, Auria, Riska Soerjaya, Ira Kusumawardani, Yasa Arifin, Nana Krit, Ira Sofyan, Mamik Kis Slamet, Dr.Nies Endang.
Sinopsis :
19 April 2008 | 20:00
Wayang Kulit Kolaborasi
Dalang : Ki Dalang Joko Edan
Bintang tamu : Trio Semok
Bhisma adalah salah satu tokoh dalam pewayangan yang banyak memberikan suri tauladan tentag nilai-nilai kepahlawanan, kejujuran dan rendah hati.
Taman Mini Indonesia Indah,
Plaza Arsipel
Jl. Raya Pintu I TMII Jakarta
+6221-840 9214
Rp.10.000
Labels: Taman Mini, tari, teater, tradisi, wayang
Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Gedung Kesenian No. 1
Pasar Baru
Jakarta
+62818 0643 8010
Rp. 200.000
Rp. 100.000
Rp. 75.000
The Seven Last Words of Christ by Theodore Dubois
Persembahan dari Susvara Opera Company
Solist :
Catharina Wiriadinata Leimena (Mezzo-Soprano)
Christine Teodosia Lubis (Soprano)
Ferry Chandra (Baritone)
Indra Listyanto (Tenor)
Joseph Kristanto (Baritone)
Margaretha Emilia Paduli (Soprano)
Novanda Bulu (Soprano)
Pricillya Carlla Souhuwat (Soprano)
R. Kristiawan (Tenor)
Sri Muji Rakhmawati (Soprano)
Immanuel Church Choir and Susvara Opera Chorus
Accompanist : Christina Mandang; Aditya Setiadi Pradana; Teo Minaroy
Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Gedung Kesenian No. 1
Pasar Baru
Jakarta
+6221-380 8283
Rp. 75.000
Rp. 50.000
Pertunjukan unik di Indonesia, pendekatan seni tari yang luar biasa.
La Danse…
Dalam dunia koreografi yang jarang lucu, Dominique Boivin bermukim di planet penuh canda dan puisi dengan suka cita. Ia memiliki bakat untuk melanggar peraturan dan mengembangkan hal-hal gila namun luar biasa yang pasti membuat penonton terpingkal-pingkal karena sangat lucu sekaligus mengungkap kebenaran.
Pada karya La Danse… ia seperti kerasukan, melompat kesana kemari, berselancar antar waktu untuk menampilkan sejarah seni tari, dari jaman Yunani kuno hingga jaman 'post-modern dance' dari Amerika, dengan lelucon dan cara unik yang ia miliki.
Dalam pertunjukan "La Danse..." kita menyaksikan sebuah solo, sosok Dominique Boivin, koreografer sekaligus penari yang tampil untuk mengsahkan sejarah tari seorang diri. Memerankan sebagai tokoh di atas panggung, pertunjukan ini dselang-seling oleh deklamasi sebuah teks antara puisi dan teater dibawakan dalam Bahasa Indonesia. "La Danse, une histoire à ma façon", adalah sebuah perjalanan tari dalam waktu dan ruang, penuh nuansa humor dan senantiasa puitis.
10-11 April 2008 | 19:00
12 April 2008 | 14:00-19:00
Dramatic Comedy : Privilege by Paul Weitz
Featuring : Marissa Anita; Chris Burrill; Gene Sugandy; Nick Swyter; Andrew Trigg
Sekolah Tiara Bangsa Theater
Jl. Bantar Jati, Kelurahan Setu
Jakarta Timur
T +62011 895 664
SMS +62811 142 936
Rp. 100.000/Adults
Rp. 50.000/Students
Labels: teater
Padepokan Wayang Orang Bharata.
Gedung Wayang Orang Bharata
Jl. Kalilio No. 1
Senen Jakarta Pusat
+6221-7064 2535
Rp. 25.000
Rp. 20.000
Mengenai suasana Pentas Bharata, simak laporan Kodok Ngerock di sini.
29-30 Maret 2008 | 16:00
Karya : Remy Sylado
Sutradara : Jose Rizal Manua
Artistik : Ines Somellera & Amsalan Dorasingam
Koreografer : Okty Budiati
Pemain :
Teuku Zacky, Maudy Kusnaedy, Nusa Kalimasada, Nurria Animbang Ganesh, Adinda Fudia Hanamici, Meritz Hindra, Abdullah Hafidz Khoir, Pepenk
Graha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73
+6221-3193 7325
Rp.50.000
Rp.30.000
Alkisah tersebutlah keluarga Bawang Merah yang sedang dirudung duka karena ayah Bawang merah yang koruptor itu baru saja terkena serangan jantung dan mati mendadak di penjara, padahal ayah Bawang Putihlah yang menjebloskannya ke penjara, maka Bawang Merah dan ibunya menyimpan dendam besar terhadap keluarga Bawang Putih.etika Bawang Merah sedang meratapi nasibnya dan berniat bunuh diri dari atas jalan tol, ia bertemu dengan Bawang Bombay dan kelompok bermotornya. Bawang Bombay bersedia membantu membalaskan dendan keluarga Bawang Merah asalkan ia mendapatkan bayaran yang setimpal.Dengan bantuan Bawang Bombay, terbalaslah dendam keluarga itu, Ibu Bawang Putih tewas minum racun ayah Bawang Putih mengawini ibu Bawang Merah. Nun, jauh disana, seorang Sultan beserta istri sedang membujuk anak semata wayangnya, sang Pangeran untuk segera berumah tangga, maka berangkatlah sang Pangeran bersama penasehatnya ke Jakarta untuk mencari calon istri yang tiada lain adalah Bawang Putih.
28 Maret 2008 | 19:30
Sanggar Baru,
Taman Ismail Marzuki,
Jl. Cikini Raya No. 73
sutradara Agus Tewel Seketi.
David Campton adalah salah satu dramawan dunia yang luar biasa. Ratusan karyanya telah diapresiasi begitu luas, tidak hanya di negara asalnya, Inggris, tapi juga di berbagai belahan dunia lain. Dalam kesempatan Pentas Teater Tujuan bulan Maret 2008, Dewan Kesenian mempersembahkan salah satu karya David Campton bertajuk “Resting Place”, yang akan dibawakan oleh kelompok Get Art Jakarta.
Tim Kreatif
Pimpinan Produksi : Jussaman
Dokumentasi Video : Joel
Dokumentasi Photo : Hariyono
Penata Panggung : Jaya Saskri
Lighting : Donny Vespa
Musik : Tommy Utan Kayu
Kostum & Make Up : Get Art Jakarta
Pemain : Ani Surestu, Dayo Pa
Artistik : Agus Tewel Seketi
Sinopsis
Waktu akan menemukan maknanya ketika sudah terlewati. Demikian juga hidup kakek dan nenek yang sudah berada dekat dengan maut yang mencoba memaknai hubungan mereka.
Nenek begitu terpesona dengan nisan yang terbuat dari batu marmer putih, tapi cemas ketika sadar mereka tidak punya uang untuk membelinya. Nenek mempertanyakan kembali pilihan hidup kakek, menjadi tukang pembuat sepatu. Kakek tersentak.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan waktumu?"
Kakek tersentak.
Senja telah datang.
Tentang David Campton
David Campton (1924 – 2006) adalah seorang penulis naskah drama untuk panggung teater, radio, dan televisi asal Inggris. Ia juga seorang kepala sekolah yang sukses di daerahnya. Campton telah menulis lebih dari 120 judul naskah pertunjukan dan telah menerima banyak penghargaan atas dedikasinya di bidang penulisan drama dan seni peran selama 35 tahun berkarya. Naskahnya sering sekali dimainkan teater-teater sekolah dan komunitas teater, baik di Inggris maupun negara-negara di seluruh di dunia. Ia sangat menikmati keberhasilannya dalam menuliskan satu peran. Karya-karyanya yang lain di antaranya Going Home, The Laboratory, The Cactus Garden, Dragons Are Dangerous, The Lunatic View, The Birthday, Ring of Roses, The Gift of Fire, dan A View from the Brink. Kebanyakan karyanya adalah naskah komedi yang tidak masuk akal (absurd) yang bermain-main dengan ironi atau tragedi yang sebenarnya ada di baliknya.
28-29 Maret 2008 | 20:00
Dalam pertunjukan monolog bertajuk “Wanci” ini Teater Satu Lampung mengangkat kisah seorang perempuan bernama Icih. Ia lahir dan dibesarkan di daerah lokalisasi pekerja seks komersial. Ia selalu berjuang sendirian seumur hidupnya. Ia berupaya keras untuk memutus lingkaran kemiskinan dan kebodohan yang seakan merupakan penyakit turunan. Naskah monolog ini adalah karya Imas Sobariah. Peran dibawakan oleh Ruth Marini, dengan arahan sutradara Iswadi Pratama.
Teater Utan Kayu
Jl. Utan Kayu No. 68H
+6221-857 3388
Gratis
19:00
Teater Kecil
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta 10330
T 337-325, 334-740, 315-4087
F 334-720
www.tamanismailmarzuki.com
Sebuah festival, sebuah keramaian yang diselenggarakan untuk melihat perkembangan dan kecemderungan dunia teater Jakarta setelah satu tahun berjalan. Serangkaian acara kan hadir selama festival berlangsung antara lain : Diskusi pertunjukan teater, warung & kemah teater, lomba dokumentasi pertunjukan teater, pameran foto & kelompok-kelompok teater.
Final festival teater Jakarta menampilkan 18 kelompok teater dari 5 wilayah Jakarta :
Jakarta Utara : Teater Anam, Sanggar Matahari, Teater Ema
Jakarta Timur : Teater Mode, Sanggar Mas Jakarta, Teater Pop Corn
Jakarta Pusat : Republik Mentaya Estetika, Teater Gonjang-Ganjing, Rumah Teater, Teater Indonesia
Jakarta Barat : Teater Kolom, Teater Amoeba, Komunitas Kaki 5, Study Teater 24, Teater Cermin
Jakarta Selatan : Teater Ciliwung, Teater Elnam, Teater Yakkin
19:00
Pentas Teater Hasil Kurasi
Teater Kail
Karya/Sutradara : Sutarno SK
Teater Kecil
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta 10330
T 337-325, 334-740, 315-4087
F 334-720
www.tamanismailmarzuki.com
19:00
Pentas Teater Hasil Kurasi Teater Siluet
Karya/Sutradara : R. Tono
Teater Kecil
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta 10330
T 337-325, 334-740, 315-4087
F 334-720
www.tamanismailmarzuki.com
20:00
Pentas Ulang Pemenang Festival Teater SLTA XVII Se-Jabodetabek 2007
Teater Kecil
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta 10330
T 337-325, 334-740, 315-4087
F 334-720
www.tamanismailmarzuki.com
20:00 - 22:00 | Rp. 12.000
Erasmus Huis,
Jl. HR. Rasuna Said Kav. S-3
Jakarta
T 0813 8151-7535
Skrip : Maria Goos
Sutradara : Rudy Wowor
Pemain : Sonja van Galen Last, Monique Knapen, Bernadette Linck en Margit de Rouw
Ada pria yang berselingkuh, ada pria yang mati'. Ada lagi yang melakukan kedua-duanya. Sandiwara ini bercerita tentang hal itu. Seorang janda, saudara perempuannya dan sahabatnya datang di sebuah restoran untuk bertemu dengan si kekasih gelap. Percakapan yang luar biasa dan tajam saling dilontarkan. Sebuah karya bagus dari Maria Goos (penulis Pleidooi, Oud geld, Familie dan Cloaca).
Labels: teater
20:00
Art Summit V 2007
International Festival on Contemporary Performing Arts
El Hanager
Mohammad Abou El Soud (Egypt)
134-15 November 2007
Gedung Kesenian Jakarta
Jl. Gedung Kesenian No. 1 Pasar Baru
Jakarta 10710
T 380 8283
F 381 0924
tu@gkj-online.com
Teater El Hanager dari Mesir
Menyuarakan Antiperang lewat Panggung Teater
JAKARTA – Ada perlawanan antara tradisi dan nilai baru pada masyarakat modern. Itu juga yang terjadi dalam masyarakat Mesir. Narasi inilah yang ingin diangkat Teater El Hanager pada naskahnya yang berjudul Aqnea Aqmesha wa Massaer (Topeng, Baju dan Nasib) karya seniman Irak yang tinggal di Uni Emirat Arab, Kassem Muhammad.
Kassem dalam narasinya mengangkat Irak pada masa lampau yang terlibat dalam perang dua kali berturut-turut sehingga mengakibatkan kerusakan dan pembunuhan yang memakan korban jiwa juga teror. Oleh sutradaranya, Hany El-Metennawy, cerita ini memang dikembangkan menjadi kisah yang mengutuk nafsu untuk berkuasa dan saling membunuh, sebuah godaan manusia sejak awal diciptakan.
Perdamaian dipertanyakan dan itu meruncing baik dalam monolog puitik (mulai dari karya penyair misalnya T.S. Eliot - Inggris, Rabindranath Tagore - India, Abou Hayan al Tawheedy – Iraq), atau berupa dialog antarpemainnya.
Dalam pertunjukan ini ditampilkan juga figur orang muda dengan latar perang. Dengan memunculkan sosok dewi di panggung kanan atas atau pun di latar panggung, yang tiba-tiba muncul dari sorotan cahaya, memperingatkan orang soal nasib yang harus diterima mereka karena keserakahan dan kelemahan manusia. Momen ini diisi penuh dengan sorotan cahaya lampu yang khas, menghasilkan bloking panggung dengan dunia imajiner berupa penataan perangkat panggung yang menarik.
Panggung memainkan sisi gelap terang selain terpaan warna. Saat lampu menyorot sudut-sudut tertentu, sudut lainnya tetap dapat terlihat. Saat kru panggung mempersiapkan adegan lain—bahkan ada adegan mengangkat perangkat panggung atau sorotan lampu pada layar untuk mendapatkan efek siluet pemain yang dimunculkan, penonton juga masih bisa melihatnya. Lampu menyorot secara bergantian antara pemusik Abu Bakr El-Sherif yang memainkan drum di sebuah adegan pertempuran yang dilakukan oleh ikon-ikon catur. Pemusik jadi hadir sebagai ”aktor” di panggung.
Ada simbolik perempuan yang bermain dengan burung-burung, ada peperangan antar-”kepala ikon catur”, ada yang terjaring jerami, ada yang ditahan dalam kotak jeruji, dan ada aktor yang bermonolog, setelah kemunculan Teiresias, seorang ahli ramal tertua (yang ada dalam mitologi Oedipus), tentang guratan manusia. Semua adalah kesedihan dan teriakan, sebab tak ada lagi cinta atau pun keluguan. Maka, sebuah pasangan pun terpisahkan, semua tempat telah berubah menjadi kuburan bagi yang mendambakan perdamaian.
Perang dan Damai
Teater El-Hanager, yang diisi oleh banyak aktor muda, merupakan salah satu agenda pertunjukan Art Summit. Hal ini ditampilkan secara abstrak dengan memperlihatkan sosok lelaki dan perempuan muda modern berkostum, sementara ”masyarakat klasik” yang dihadirkan sebagai representasi dongeng dengan kostum ”kepala binatang” tadi.
Para pemain masa klasik, dimunculkan dengan kepala binatang gajah, kuda dan lain-lain dengan warna yang menyolok antara lain hijau, merah dan biru. Sutradaranya, mengatakan bahwa figur ”fabel” ini diambil dari simbol tentang catur, yang menunjukkan bentuk kekuasan kerajaan di masa lampau.
Sekalipun bisa dilihat sebagai durasi warna, warna dasar pada kepala binatang pada aktor ini memang sangat kontras apalagi bila dibandingkan dengan pementasan teaternya yang cenderung menampilkan warna setting yang hitam dan putih.
Bagaimanapun, inilah maksud dari simbol ini. Dunia merupakan saluran tak berakhir, bak penjara dan kuburan besar. Ada permainan catur yang mematikan berupa medan perang yang dashyat oleh makhluk yang gemar berperang di mana manusia menjadi setengah binatang.
Dengan bahasa Mesir, pementasan ini memang menyulitkan interpretasi para penonton untuk mengerti dialognya secara lebih gamblang, apalagi ada dialog perang, dialog tentang perdamaian, monolog puitik, hingga perbenturan kultural antarkekinian dengan perang yang telah ditimbulkan oleh ”dunia lampau”.
Dengan sorotan lampu yang khas (tata cahaya oleh Abu Bakr El-Sherif), dan perangkat panggung tadi, masih ditambah dengan musik yang mengiring percakapan yang meninggi dan suasana adegan peperangan, terlihat auranya bagi penonton.
Namun, di luar bahasa yang tak bisa diterjemahkan, gerak dan ekspresi pemain memang tak bisa dimaksimalkan karena pembatasan atribut para pemain yang sangat berlebihan. Selain gerak para binatang yang lebih pada lenggokan – di tengah perangkat panggung baik berupa penjara, level-level dan ”panggung di atas panggung”, para pemain yang bermonolog kerap tak mengeksplorasinya secara maksimal untuk melampaui persoalan bahasa yang jelas tak bisa ditangkap oleh penonton.
Sekali pun demikian, di luar pengaktingan dan eksplorasi perdamaian, cara penuangan naskah dan plot pembabakan dalam narasi ini sangat dieksplorasi menjadi urutan yang kreatif dan mudah dimengerti. Apalagi tema fabel akibat topeng binatang itu menjadi cair dan mengurangi simbolik – hal yang berbeda ketika para tokoh menggunakan topeng kertas berupa wajah.
(Sinar Harapan/sihar ramses simatupang)